Akselerasikan Bisnis Anda Dengan Mengikuti SBM Workshop Bersama Bapak Budi Isman (Padang 16-17 November 2019)

Peraturan Tentang Cuti Tahunan Karyawan Swasta

Peraturan Tentang Cuti Tahunan Karyawan Swasta

Peraturan Tentang Cuti Tahunan Karyawan Swasta – Sebagai seorang karyawan pastinya terkadang kita ragu untuk memanfaatkan cuti yang diberikan oleh perusahaan. Padahal, dengan memanfaatkan cuti tersebut kita dapat menghilangkan rasa penat yang disebabkan oleh rutinitas pekerjaan. Tentunya Hak cuti ini dapat memberikan dampak positif kepada karyawan maupun perusahaan.

Bagi seorang karyawan, tentunya dengan keluar sejenak dari rutinitas akan menjaga kondisi kesehatan mental dan mengembalikan tingkat kepuasan dalam bekerja. Sedangkan bagi perusahaan, kondisi mental karyawan yang baik akan berpengaruh terhadap pencapaian sebuah target. Selain itu, perusahaan dapat menggunakan kesempatan cutinya karyawan untuk melatih skill karyawan lainnya.

Peraturan Tentang Cuti Tahunan Karyawan Swasta

Hak Cuti karyawan di indonesia diatur dalam undang undang ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003 yang berisi peraturan tentang ketenagakerjaan didalamnya terdapat hak cuti karyawan yaitu salah satunya adalah cuti tahunan.

Dalam pasal 79 ayat 2 undang undang nomor 13 tersebut, karyawan berhak memperoleh paling sedikit 12 hari dengan syarat bahwa karyawan tersebut sudah bekerja minimal setahun atau 12 bulan lamanya di perusahaan tersebut. Namun, pada kenyataan di lapangan, terdapat beberapa metode untuk menghitung cuti tahunan tersebut, berikut adalah metodenya.

  • Metode Annually

Menghitung dengan menggunakan metode annually yaitu perusahaan terlebih dahulu akan menentukan peride bulan tertentu untuk memunculkan cuti dengan metode ini. Banyak perusahaan memunculkan cuti tahunannya pada bulan januari. Maka untuk karyawan yang baru bergabung, cutinya akan dihitung proposional sampai ke bulan januari, sedangkan untuk karyawan lama maka cutinya akan muncul pada bulan januari sebesar 12 hari.

Jika menggunakan perhitungan metode ini, maka perusahaan akan lebih mudah melakukan perhitungan dan pengecekkan cuti karyawan. Dari sisi karyawan tentulah juga sangat berbahagia karena per awal tahun semua karyawan punya jatah cuti tahunan baik karyawan yang baru maupun karyawan lama. Namu, perlu mendapat pertimbangan juga dari sisi perusahaan jika karyawan tersebut resign sebelum genap masa kerja setahun, maka perusahaan harus membayaran sisa cuti yang belum diambil sesuai dengan pasal 156 ayat 4.

  • Metode Anniversary

Berikutnya dengan menggunakan metode perhitungan Annviersary. Dengan menggunakan metode ini, maka karyawan akan mendapatkan cuti ketika telah bekerja 1 tahun. Efeknya, waktu pemunculan cuti karyawan antara satu dengan yang lainnya dapat berbeda. Tentunya hal ini menjadi salah satu kesulitan bagi perusahaan untuk melakukan pengecekkan. Namun, metode ini sesuai dengan apa yang tertulis di undang undang nomor 13 pasal 79 ayat 2 yang mana menyebutkan bahwa karyawan harus bekerja 12 bulan berturut-turut.

  • Metode Anniversary Annually

Metode ini merupakan kombinasi antara dua metode yang telah disebutkan diatas, untuk karyawan yang baru cuti akan muncul ketika sudah genap 1 tahun  dan ditahun berikutnya akan muncul cuti tahunan mulai per januari dan dihitung dengan proporsional. Metode ini juga merupakan salah satu metode yang relative sering digunakan oleh perusahaan karena sesuai dengan undang undang nomor 13 yang menyebutkan bahwa karyawan harus bekerja 12 bulan berturut-turut dan setelah tahun kedua perusahaan akan lebih mudah dalam hal pengecekkan serta pemunculan cuti.

  • Metode monthly

Ada beberapa perusahaan yang menggunakan metode ini dalam menghitung cuti bagi karyawan baru maupun karyawan yang lama. Dengan metode ini, setiap karyawan berhak mendapatkan cuti tahunan sebesar 1 hari perbulan. Untuk masa berlakunya ada yang 1 tahun setelah muncul ada juga yang habis pada akhir tahun pada periode yang berjalan.

Untuk karyawan yang cutinya dihitung dengan menggunakan metode ini maka tidak perlu menunggu 1 tahun untuk menggunakan hak cutinya. Permasalahan di perusahaan ialah jika karyawan yang resign dan masih memiliki sisa cuti maka perusahaan wajib menguangkan sisa cuti tahunan yang belum digunakan karyawan tersebut. Hal ini sesuai dengan pasalnya yaitu 156 ayat 4.

Dari beragam metoe yang telah disebutkan diatas, setiap perusahaan akan mengatur hak cuti tahunan karyawan lebih lanjut dalam peraturan perusahaan atau perjanjian kerja sama dan kesepakatan antara pengusaha dan karyawan. Meskipun sederhana, seringkali metode penentuan cuti di atas akan semakin kompleks jika dilakukan secara manual, apalagi jumlah karyawan terbilang banyak maka membutuhkan kombinasi metode cuti dengan perhitungan yang berbeda.

Leave a Reply

Close Menu
Subscribe To Our Newsletter

Subscribe To Our Newsletter

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!